Menilai Penulis Lewat Sebuah Goresan Pena (Karya Tulisnya)

Menulis yang dianggap paling tinggi adalah menulis kreatif. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meluapkan ekspresi atau menuangkan ide dan imajinasi seseorang, salah satunya dalam bentuk karya tulis. Masing-masing penulis memang mempunyai cara yang berbeda dalam menuangkan ide atau segala sesuatu yang ada dibenak penulis sehingga membentuk gaya bahasa yang khas untuk masing-masing penulis.
Saya gemar membaca buku yang berceritakan tentang kisah petualangan, travel writing, dan kisah percintaan, karena dari alur cerita yang mengalir saya dapat menangkap emosi yang dialami tokoh didalamnya dan dapat meresapi pengalaman penulis lewat sebuah karya tulisnya. Salah satu buku yang pernah saya baca yaitu “The White Masai”. Buku karangan Corrine Hofmann yang menceritakan kisah nyata tentang dua insan yang berbeda ras yang bersatu karena cinta. Membaca The White Masai ibarat membaca perpaduan antara kisah cinta romantis yang tragis, kisah petualangan yang begitu memikat, sekaligus hasil pengamatan seorang antropolog sosial yang sangat cermat dan menjiwai. Selain itu, penulisnya seolah hendak mengajarkan kepada kita tentang cinta seorang wanita, yang tak bersyarat dan tak mengenal warna (ras).

Selain itu, novel “Bumi Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa”, novel karangan Habiburahman El-Shirazy. Novel ini berkisah tentang pemuda Indonesia jebolan Universitas Islam Madinah yang sedang melakukan riset tesis di Moskwa. Namanya Muhammad Ayyas. Karena uang pas-pasan, di Moskwa, Ayyas tinggal di apartemen tua yang dibangun pada pemerintahan Stalin. Di apartemen inilah keimanan Ayyas diuji. Sebab, meskipun memiliki kamar tidur sendiri, Ayyas harus berbagi ruang tamu, dapur, dan kamar mandi dengan dua wanita cantik, Linor dan Yelena. Linor adalah jurnalis sekaligus seniman orkestra yang piawai bermain biola, namun sebenarnya agen Mosad. Sedangkan Yelena adalah pelacur kelas tinggi (high class), seorang atheis, yang sehari-hari menyamar sebagai guide bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Moskwa. Dari sinilah konflik demi konflik mulai menghujani batin Ayyas. Tentu perjuangan Ayyas ini tidak mudah. Sebab, Moskwa merupakan salah satu kota di negara Rusia yang sangat menjunjung seks bebas (freesex) dan kebebasan tak bertuhan. Kota Moskwa kerap disebut surga dunia bagi para manusia pengusung kebebasan seks dan hawa nafsu.

Novel besutan sastrawan kenamaan Indonesia Habiburahman El-Shirazy ini menghadirkan kisah amat mengharukan sekaligus menegangkan. Kang Abik—panggilan akrab penulis novel ini—adalah nuansa romansanya yang begitu kental. Ia begitu piawai mengemas konflik dan menampilkan karakter kuat sang tokoh.

Jika dikatakan bahwa, “Suatu karya tulis merupakan hasil dari proses bernalar penulisnya, jadi tidak salah jika kita menilai seseorang dari karya tulisnya”, saya setuju mengenai pendapat tersebut. Karena dengan membaca karya tulisnya secara tidak langsung kita dapat berinteraksi lewat alur ceritanya sekaligus meresapi pengalaman yang dialami penulis lewat sebuah karya tulisnya. Selain itu, secara tidak langsung kita juga dapat menilai sosok kepribadian penulis lewat tokoh dalam alur ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s