Negeri Konsumen

Gemah Ripah Loh Jinawi,” peribahasa tersebut pastinya sering kita dengar untuk menggambarkan negeri kita tercinta ini. Ya negeri kita memang kaya. Hutan tropis, tanah yang subur membentang luas. Bahkan beberapa menyebutnya Zamrud Khatulistiwa. Hasil lautnya pun kaya. Namun dikutip dari sebuah bedah editorial Media Indonesia mengungkapkan bahwa “Negeri ini telah menjadi negeri konsumen, yang tidak menghargai produk sendiri”. Opini tersebut mungkin menimbulkan pertanyaan yang mengusik sanubari dan menyentuh rasa kebangsaan, ya negeri kita ini termasuk negara produsen atau negara konsumen?

Bila hal tersebut ditanyakan kepada Badan Pusat Statistik (BPS), jawabnya dapat dipastikan Indonesia negara produsen. Bahkan jawaban itu disertai dengan statistik yang mencengangkan, seperti kinerja perdagangan sepanjang 2010 yang dirilis BPS pekan lalu.

Mencengangkan, karena untuk kali pertama ekspor bulanan kita pada Desember 2010 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia yaitu dengan nilai US$16,8 miliar. Tahun lalu, total ekspor kita meningkat 35%, dari US$116,5 miliar pada 2009 menjadi US$157,7 miliar.

Namun, yang lebih mencengangkan impor kita juga naik, bahan melebihi kenaikan ekspor. Impor melonjak 40%, dari US$96,8 miliar di 2009 menjadi US$135,6 miliar selama 2010. Terjadi lonjakan impor, tetapi neraca perdagangan kita versi BPS masih surplus. Benarkah demikian?

Fakta dilapangan meragukannya. Maraknya cabai asal Thailand yang tidak terdeteksi keberadaannya dalam daftar impor, misalnya merupakan contoh nyata yakni mudahnya barang negeri orang masuk ke Indonesia secara ilegal. Negeri ini jelas dikepung produk impor, resmi maupun gelap. Tidak peduli kendati barang-barang itu bias diproduksi di dalam negeri. Bukan hanya cabai, ternyata negeri kita pun mengimpor garam. Bahkan, mengimpor sudah seperti candu. Ketika harga pangan melambung, pemerintah pun mengambil langkah membebaskan bea masuk impor atas 57 produk terkait pangan.

Di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok saja saat ini ada 62 kontainer daging impor menunggu untuk masuk. Pemerintah juga tengah bersiap untuk kembali mengimpor beras dan gula. Padahal semua itu (beras, gula, garam, cabai, daging) merupakan kebutuhan rakyat yang dapat dihasilkan di negeri sendiri. Namun nyatanya kita masih saja mengimpor semua itu. Sebab, Indonesia telah gagal menjadi negara produsen.

Kita pun gagal sebagai negara produsen sumber daya manusia. Sebanyak 48 ribu anak bangsa ini bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brasil. “Kita yang menyekolahkan mereka 15 tahun lalu, tapi negara lain yang panen,” kata mantan Presisen BJ Habibie. Sebaliknya, kita justru ‘mengekspor’ jutaan tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebagian dari mereka disiksa tanpa mendapatkan pembelaan yang memadai dari negara.

Indonesia sebagai negara dengan sebutanGemah Ripah Loh Jinawi” yaitu dengan kekayaan hasil bumi yang berlimpah seharusnya bisa membawa negara ini “Toto Tentrem Kerto Raharjo” (tatanan atau keadaan yang tentram dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya). Namun nyatanya angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai angka 31,02 juta jiwa, yang lebih mengenaskan lagi masih banyak kasus gizi buruk yang terjadi Indonesia. Pemerintah seakan lebih mementingkan pertumbuhan bagi kalangan atas. Negara ini seolah sedang menggali kubur untuk produksi negeri sendiri, sambil menggelar karpet merah untuk barang impor. Negeri ini telah menjadi negeri konsumen, yang tidak menghargai produk sendiri. Bahkan, tidak menghargai anak bangsanya sendiri.

Sumber: Editorial MI, 7 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s